Kamis, 24 Juni 2010

Unsur logam yang terdapat dalam Pelumas bekas












 
Unsur-Unsur ..................Kemungkinan asal Sumber unsur-unsur tersebut

Alluminum(A1) ..............Bearings-Bushings-Blocks-Pistons-Blowers- 
                                      Pumps-Clutches-Washers-  Ingested Dirt  
Barium (Ba)...................Detergent/Dispersant additive
Boron (B) .....................Coolant Additive-EP Additive
Cadmium (Cd)...............Coating on Metals
Calcium (Ca)..................Detergent Dispersant Additive-Salt water-
                                      Road salt
Chromium (Cr) ..............Bearngs-Rings-Rollers-Liners-
                                      Exhaust Valves-Seals-Shafts-Coolant Treatment 
Copper (Cu) .................Bearings-Bushings-Washers-Pumps-Gears-
                                      Pistons-Antiweear Additive
Iron (Fe)........................Blocks-Bearings-Cylinders-Pumps-Liners-Gears-
                                      Pistons-Rings-Discs-Shafts- Valves-Screws 
Lead (Pb) .....................Bearings-Additive
Magnesium (Mg) ...........Hard water-Detergents Dispersants Additive

Manganese (Mn) ...........Detergent Additive
Molybdenum (Mo) ........Rings-Friction Modifier-Anti wear Additive
Nickel (Ni) ....................Bearings-Valves-Shafts
Phosphorus (P) ..............Antiwear Additive

Silicon (Si) .....................Seals-Gaskets-Ingested Dirt-Colant Additive-                        
                                       Anti foaming Additive
Silver (Ag) .....................Bearings-Bushings-Solder

Sodium (Na) ..................Coolant Additive-Road salt-Detergent Additive

Tin (Sn) ..........................Bearings-Bushings-Pistons

Titanium (Ti) ...................Turbine Blades-Compressor Discs-Bearing Hubs

Vanadium (V) .................Valves-Coating on Metals
Zinc(Zn) ........................Anti wear /Inhibitor Additive 
 

Senin, 07 Juni 2010

DASAR-DASAR PEMADAMAN KEBAKARAN


I. SEGITIGA API
Untuk dapat memadamkan api dengan efektif kita harus mempunyai gambaran yang jelas mengenai sebab-sebab terjadinya kebakaran/api.

Terjadinya api disebabkan oleh gabungan tiga unsur yaitu :
a) Bahan yang mudah terbakar
b) Oksigen atau zat pengoksida, dan
c) Sumber panas yang cukup untuk menaikkan temperatur bahan bakar sampai titik
penyalaannya.

Menurut bentuk bahan bakar (fuel/vapor) dapat dibedakan dalam 3 (tiga) macam yaitu :
a. Padat (solid) contoh : kayu, kain, kertas, plastik
b. Gas (liquid) contoh : premium kerosine, solar dsb
c. Gas contoh : LNG, LPG, propane, butane

Oksigen banyak terdapat diudara (21%). Untuk memulai reaksi yang menimbulkan api antara bahan bakar, dan oksigen diperlukan kenaikan suhu dari kedua komponen terebut. Sumber panas (heat) tersebut dapat berupa :

a. Api terbuka seperti : dapur, rokok, api las, bunga api (spark) dsb.
b. Gesekan (friksi), dapat menimbulkan bunga api dan panas.
Contoh : sumber yang berputar di balok bantalan yang kurang/tidak dilumasi.
c. Listrik/electricity, contoh : sumbu-sumbu yang berputar dibalok bantalan yang
kurang/tidak dilumasi.
d. Permukaan yang panas, contoh : ketel uap, pipa uap, motor bakar, tungku api, pipa
knalpot dsb.
e. Reaksi kimia, yaitu percampuran 2 (dua) elemen yang berbeda, contoh : kalium
permanganat dengan gliserin, asam belerang dengan gula pasir.

Bila temperatur lebih tinggi dari normal dan terus menerus naik, maka kecepatan proses oksidasi juga akan mengalami kenaikan. Misal kertas atau kayu, bersama oksigen dalam 'proses oksidasi cepat' dikatakan terbakar atau mengalami proses pembakaran dan timbul yang disebut api (fire). Jadi API atau PEMBAKARAN didefinisikan sebagai reaksi kimia yaitu proses oksidasi cepat dari suatu zat dengan mengeluarkan panas, terang atau nyala. Jika nyala tidak timbul dapat disebut berasap (smokedering) atau taraf tidak aktif (inactive).

Suatu benda akan terbakar habis bila pada pembakaran pertamanya menghasilkan panas untuk reaksi selanjutnya. Tiga komponen yang dapat menimbulkan api disebut dengan Segitiga Api/Segitiga Kebakaran .

Bila salah satu dari tiga komponen tersebut dilepaskan/dihilangkan maka api tidak akan terjadi.

II. PRINSIP PEMADAMAN API

Sebelum mempelajari lebih jauh prinsip pemadaman api, kita harus mengetahui lebih dahulu klasifikasi kebakaran berdasarkan jenis bahan yang terbakar. Yang dimaksud dengan klasifikasi kebakaran ialah penggolongan atau pembagian kebakaran atau jenis bahan bakarnya. Tujuan klasifikasi ini adalah agar memudahkan kita dalam usaha pencegahan dan pemadaman kebakaran.
Kita dapat memilih media pemadam yang tepat dan sesuai bagi suatu jenis kebakaran, sehingga usaha pencegahan dan pemadaman akan berdaya guna dan tepat guna.

Menurut peraturan menteri tenaga kerja dan Transmigrasi No. Per-04/MEN/1980 tanggal 14 April 1980, klasifikasi kebakaran di Indonesia adalah sebagai berikut :

1. Kelas A = kebakaran bahan padat biasa, dimana pendinginan ( dengan air atau
larutan berkadar air tinggi) merupakan cara utama untuk memadamkannya.
Contoh : Kebakaran kayu, kain, kertas, karet dan beberapa macam plastik.
2. Kelas B = kebakaran cairan mudah terbakar dimana penyelimutan merupakan cara
utama untuk memadamkannya.
Contoh : kebakaran minyak, gemuk (grease), cat berpelarut minyak, dan gas
mudah terbakar.
3. Kelas C = kebakaran pada peralatan beraliran listrik, dimana untuk
memadamkannya dibutuhkan media pemadam yang tidak menghantarkan listrik. Jika
arus listriknya dimatikan, akan ditemui kebakaran kelas A atau B.
Contoh : kebakaran trafo, panel lstrik, generator, peralatan audio, dll.
4. Kelas D = kebakaran logam, dimana dibutuhkan media khusus untuk
memadamkannya.
Contoh : kebakaran sodium, magnesium, titanium, bahan-bahan radioaktif, dll.

Seperti telah diuraikan diatas, bahwa terjadinya api adalah atas dasar peristiwa segitiga api. Dengan demikian untuk memadamkan api atau untuk mencegah timbulnya api, kita harus menghilangkan salah satu unsur segitiga api atau merusak konsentrasi dari ketiga unsur tersebut, yaitu :

a. Menghilangkan/membatasi atau mengurangi bahan bakar (starvation).
Pemindahan bahan mudah terbakar untuk mematikan api memang efektif, tapi pada
prakteknya memang sulit. Sebagai contoh cara memindahkan bahan bakar yaitu dengan
menutup kerangan, memompa minyak ketempat lain, memindahkan bahan yang mudah
terbakar dll.Cara lain adalah dengan menyiram air pada bahan tersebut atau membuat
penahan/pencegah terjadinya penguapan bahan tersebut yaitu dengan foam yang
menghentikan/memisahkan minyak dengan daerah pembakaran.
b. Memisahkan uap bahan bakar dengan udara (penyelimutan/smothering), sedangkan
prinsip mengurangi kadar oksigen diudara disebut pengenceran/dilusi.
Salah satu contoh cara ini ialah memadamkan minyak terbakar dipenggorengan dengan
jalan menutup penggorengan tersebut. Penyelimutan ini biasanya adalah salahsatu
cara yang paling mudah untuk memadamkan api.
c. Mengurangi panas bahan bakar sampai temperatur dibawah titik penyalaannya
(pendinginan/cooling).
Salah satu cara yang paling luas untuk memadamkan api adalah dengan cara
pendinginan. Pengontrolan suhu mendapatkan penyerapan panas dengan pendinginan
bahan baku sampai titik sehingga tidak bisa menguap untuk menyuplai uap untuk
pembakaran. Air adalah salahsatu bahan penyerap panas yang terbaik dari bahan
lainnya.
d. Memutus rantai reaksi api baik secara kimiawi maupun secara fisis (breaking chain
reaction).
Penelitian yang telah dilakukan dalam beberapa tahun belakangan membuktikan bahwa
pernyataan yang paling dekat tentang pemisah panas, pemisahan bahan bakar, atau
pemisahan oksigen dalam pemadaman kebakaran tidak berlaku, bila Dry Powder atau
bahan-bahan yang mengandung hidrokarbon dipakai untuk bahan pemadam. Bahan-bahan
ini adalah produk-produk menengah yang reaksinya lambat dalam reaksi kebakaran
untuk menurunkan suhu panas (tingkatan evolusi suhu panas) dan untuk pemadam.

III. MEDIA PEMADAM KEBAKARAN

Media pemadam api menurut fasanya dibagi menjadi 3 bagian yaitu :

a. Jenis padat : misalnya pasir,tanah,selimut api, tepung kimia (dry chemical)
b. Jenis cair : misalnya air, busa
c. Jenis gas : misalnya gas asam arang (CO2), Halon

Beberapa jenis media pemadam tersebut diterangkan sebagai berikut :

metoda pemadaman api

1. Pasir
Efektif untuk memadamkan kebakaran kelas B yaitu tumpahan minyak atau ceceran minyak.
Tujuan utama berfungsi untuk membatasi menjalarnya kebakaran, namun untuk kebakaran kecil dapat digunakan untuk menutupi permukaan bahan yang terbakar sehingga memisahkan udara dari proses nyala yang terjadi, sehingga nyala padam.

2. Tepung Kimia
Menurut kelas kebakaran yang dipadamkan tepung kimia dibagi menjadi sebagai berikut :

a. Tepung kimia reguler (untuk kebakaran kelas B dan C).
Misalnya : Purple K, Plus 50 C, Monnex, Super K.
b. Tepung kimia serbaguna (multipurpose), untuk kebakaran kelas ABC. Misalnya :
Monoamonium Phosphate (MAP).
c. Tepung khusus untuk kebakaran logam (kelas D), misalnya : Met-L-X, TEC, Lith X
Powder dll.

Ciri-ciri tepung kimia (dry powder) adalah :
- Butiran relatif seragam dengan diameter 15-60 mikron,
- Tidak beracun
- Untuk mencegah sifat higrokopis (mengisap air) dan penggumpalan, serta untuk
memberikan daya pengaliran yang lebih baik, maka ditambah “logam stearate” serta
bahan-bahan tambahan (additives tambahan).
- Walaupun cocok untuk kebakaran kelas C (listrik), tetapi dapat merusak instalasi
atau peralatan elektronik karena meninggalkan kotoran/kerak.
- Bagi manusia, segi bahayanya adalah dapat merusak pandangan dan mengganggu
pernafasan.

Cara kerja tepung kimia dalam memadamkan api :
- Secara fisis, yaitu pemisahan atau penyelimutan bahan bakar dengan udara.
- Secara kimia, yaitu memutus rantai reaksi pembakaran, dimana partikel-pertikel
tepung kimia tersebut akan mengikat radikal hidroksil dari api.

3. Air

Air cocok untuk memadamkan kebakaran kelas A dan B. Dalam pemadaman kebakaran air yang paling banyak dipergunakan. Hal tersebut karena air mempunyai keuntungan sebagai berikut :
- Mudah didapat dalam jumlah yang banyak.
- Murah
- Mudah disimpan, diangkut dan dialirkan
- Dapat dipancarkan dalam berbagai bentuk
- Mempunyai daya 'menyerap panas' yang besar, yang menjadi ciri utama dari media
pemadam air.
- Mempunyai daya mengembang uap yang tinggi.

Kelemahan air sebagai media pemadam, antara lain :

- Menghantar listrik sehingga tidak cocok untuk kelas C.
- Berbahaya bagi bahan-bahan kimia yang larut dalam air atau yang eksotherm
(menghasilkan panas).
- Dapat terjadi 'slop over' bila digunakan untuk memadamkan minyak secara langsung

Cara kerja air dalam pemadaman api adalah secara fisis :

- Pendinginan, air mempunyai daya serap yang besar. Panas yang diserap dari 15 °C
sampai 100 °C adalah 84,4 kcl/kg (152 BTU/1bbs)
- Penyelimutan, karena air yang terkena panas akan berubah menjadi uap (steam), dan
uap air tersebut kemudian mengurangi kadar oksigen dalam air (dillution).

4. Busa (Foam)

Busa adalah kumpulan dari gelembung-gelembung cairan (bubbles) yang mengapung diatas permukaan zat cair dan mengalir pada permukaan bahan padat. Dari bentuk fisik busa tersebut maka sangat efektif untuk memadamkan kebakaran kelas A dan B, terutama pada permukaan yang terbakar sangat luas, sehingga sulit bagi media pemadam lain untuk menjangkau tipe kebakaran tersebut.

Media pemadam ini terdiri atas 2 jenis yaitu busa kimia maupun busa mekanik. Ditujukan terutama untuk memadamkan kebakaran kelas B, dan secara terbatas juga untuk kebakaran kelas A.

- Busa Kimia

Busa ini terbentuk karena adanya proses (reaksi) kimia antara larutan Aluminium Sulfat dengan larutan natrium bikarbonat.
Reaksinya adalah :

A12(SO4)3 + 6NaHCO3→ 2A1(OH)3+3Na2SO4 + 6CO2

- Busa Mekanik

Busa ini terbentuk karena adanya proses mekanis yaitu berupa adukan dari bahan-bahan pembentuk busa yang terdiri darai cairan busa, air bertekanan, dan udara.

Untuk melaksanakan proses pembentukan busa ini dipergunakan alat-alat pembentuk busa. Proses pembentukan busa adalah sebagai berikut : Air dicampurkan degan cairan busa sehingga membentuk larutan busa (foam solution). Kemudian udara dicampurkan pada larutan busa dengan proses mekanis yaitu adanya pengadukan atau peniupan udara maka terbentuklah busa mekanis.

Bahan baku busa mekanis antaralain : Fluoro protein (FP70), Fluorocarbon surfactant (AFFF), Hydrocarbon surfactant (Louryl alcohol).


IV. ALAT PEMADAM KEBAKARAN

Fasilitas alat pemadam kebakaran terbagi atas 3 macam, dan dibedakan menurut konstruksinya, yaitu :

a. Alat pemadam api ringan
b. Alat pemadam api beroda
c. Alat pemadam api instalasi tetap (fixed system)

Pada dasarnya teknik untuk memadamkan kebakaran adalah :
a. Harus dipadamkan sedini mungkin dengan alat pemadam api ringan (APAR) yang
terdekat, atau dengan cara sederhana yang tepat, antara lain : menutupi dengan
goni basah, menyiram dengan air (disesuaikan dengan klasifikasi kebakaran).
b. Bila pertolongan petama gagal, usahakan penanggulangan kebakaran terhadap daerah
yang terbakar dan bersamaan dengan itu usahakan memblokir tempat kebakaran dengan
bangunan lain yang terdekat.
c. Untuk pemadaman yang menggunakan air atau bahan cair, terlebih dahulu harus
memutuskan aliran listrik ditempat yang akan dipadamkan/disemprot.

Yang akan diterangkan berikut ini lebih ditekankan pada penggunaan alat pemadam api ringan (APAR).

V. ALAT PEMADAM API RINGAN

Penggunaan alat pemadam api ringan (Portable Fire Extinguisher) untuk memadamkan kebakaran awal telah terbukti banyak manfaatnya. Menurut penelitian National Association of Fire Equipment Distributor di Amerika (Bryan, hal 27), dari sejumlah 5400 kasus kebakaran yang diteliti, sekitar 5073 kasus dapat dipadamkan oleh penghuni dengan menggunakan Alat Pemadam Api Ringan. Sedangkan kasusnya sisanya dipadamkan dengan menggunakan sistem sprinkler otomatis atau oleh regu pemadam.

Oleh karena itu, NFPA menentukan bahwa APAR harus tetap disediakan untuk memadamkan kebakaran awal. Walaupun tempat tersebut telah dilindungi oleh sprinkler otomatis atau alat pemadam kebakaran yang lain (hidran air, dll). NFPA memberikan batasa, Alat Pemadam Api Ringan (APAR) adalah : “suatu peralatan ringan yang berisi tepung, cairan atau gas yang dapat disempurnakan bertekanan, untuk tujuan pemadaman kebakaran” (NFC 10-1981, hal. 10-6)

Sedangkan menurut Peraturan Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi No. Per-04/MEN/1980, tentang syarat-syarat pemasangan dan pemeliharaan APAR, dikemukakan bahwa APAR adalah : alat yang ringan serta mudah dilayani oleh satu orang untuk memadamkan api pada mulanya terjadi kebakaran. Dari kedua batasan diatas tampak jelas ciri-ciri yang memiliki APAR, yaitu : ringan, berisi media pemadam, mempunyai tenaga dorong, digunakan untuk memadamkankebakaran awal, dan dapat dilayani oleh satu orang saja.

Untuk memadamkan kebakaran, APAR memiliki beberapa keterbatasan, baik dalam jumlah media pemadam, jarak jangkau serta lamanya semprotan. Oleh karena itu APAR harus dipergunakan secara cepat dan tepat, agar tidak banyak media pemadam yang terbuang percuma. Dayaguna (effisiensi) dan hasil guna (efektivitas) penggunaan APAR tergantung pada beberapa faktor, yaitu :
1. APAR cocok terhadap api yang mungkin timbul.
2. APAR diletakan secara tepat dan dalam keadaan siap pakai (in working order).
3. Kebakaran ditemukan pada saat masih cukup kecil untuk dipadamkan dengan APAR.
4. Kebakaran ditemukan oleh orang yang siap, mau dan mampu mempergunakan APAR tersebut (NFC 10-1981, hal. 10-29).

VI. PEMAKAIAN ALAT PEMADAM API RINGAN

a. APAR jenis Dry Powder (Tepung Kering)

Salah satu contoh Alat Pemadam Api Ringan (APAR) dengan media pemadam Dry Powder adalah Model A-20 E (gambar 3)

Cara-cara pemakaiannya adalah sebagai berikut :
1. Turunkan alat pemadam dari tempatnya
2. Lepaskan selang dari jepitan
3. Pegang horn nozzle dengan tangankiri sedangkan tangan kanan menekan
pelatuk/pemecah cartrige dengan posisi badan/muka menyamping dari fill cap racun
api.
4. Lakukan pengetesan ditempat yang aman terlebih dahulu sebelum maju kesasaran api
dengan posisi nozzle keatas
5. Bila alat tersebut baik majulah mendekati api dari arah angin datang (diatas
angin) dengan memegang nozzle sudut 45°.
6. Padamkan api dengan mengarahkan semburan dry chemical 6” dimuka sudut (tepi) api
dalam jarak kira-kira 2 meter (jangan terlampau dekat). Lalu majulah perlahan
sambil mengibas kekiri dan kekanan sedemikian rupa sehingga semburan dry chemical
melewati tepian api/batas bagian yang terbakar tertutup dengan sempurna.
7. Perhatikan dengan seksama apakah api benar-benar telah mati, kalau telah mati
mundurlah beberapa langkah dan jangan langsung membelakangi api karena kemungkinan
api menyala kembali (flash back) dan akan membahayakan bagi pemakainya.

b. Jenis busa kimia (Chemical Foam)

APAR jenis busa kimia mempunyai konstruksi yang berbeda-beda yaitu :

1. Jenis balik biasa/Overturing
2. Jenis kerangan/Valve
3. Jenis sekat pecah/Breakable seal

Saat menggunakan APAR jenis busa jangan digunakan langsung kepermukaan cairan yang terbakar, tetapi harus diarahkan kedinding vertikal permukaan yang terbakar sehingga foam mengalir kebawah dan membentuk lapisan selimut yang akan menyebar diatas permukaan yang erbakar.

Jenis alat pemadam ini terdiri dari gas cartrige dan stored pressure yang dioperasikan dengan posisi berdiri, tetapi jenis yang lama harus dibalikkan pada saat mengoperasikannya . jenis ini harus dipegang selama dioperasikan dan akan membantu untuk memadamkan api secara cepat, serta pada saat yang sama nozzle harus ditekan untuk memberikan pancaran dengan tekanan yang cukup.

Dibandingkan dengan APAR busa-mekanik, APAR jenis busa kimia memiliki beberapa kelemahan :
- Daya pemadamannya lebih rendah (untuk ukuran APAR yang sama).
- Sekali digunakan tidak dapat dihentikan pancarannya, sehingga mempersulit
penggunaannya.
- Mengandung bahan kimia yang bersifat karat.

c. APAR busa mekanik (Mechanical Foam Extinguisher).

Sistem pendorong : tekanan dorong diperoleh dari gas CO2, baik dengan cara tabung gas (Gas cartrige) maupun tekanan tersimpan (Stored Pressure).

Konstruksinya terdiri dari berbagai jenis :
1. Tipe gas Cartrige.
2. Tipe stored-pressure.

Pemakaian APAR jenis busa (inset:jenis dibalik)

Pada kepala bejana sering dilengkapi dengan katup pengatur, dan pada nozzle terdapat sistem pengisi ventury untuk memasukkan udara gelembung busa .

Keuntungan yang dimiliki APAR tipe ini dibandingkan dengan tipe busa kimia, adalah :
1. Daya pemadamannya tinggi.
2. Aliran busa dapat dikendalikan oleh operator, sehingga memudahkan pemadaman.
3. Sifat karat dari larutannya tidak setinggi allumunium sulfat.

Teknik atau cara penyampaian busa ketempat bakaran adalah :
- Dinginkan wadah cairan yang terbakar
- Selama air masih keluar dari pemancar busa jangan sekali-kali air tersebut
dimasukkan ketempat yang terbakar.
- Bila busa telah keluar dari pemancar, arahkan ketempat yang terbakar.
- Pemasukan busa boleh dengan secara gravitasi atau ditembakkan kebagian dalam
dinding wadah yang terbakar.
- Bila api sudah padam, tetap dilakukan pendinginan dan penyemprotan busanya
diarahkan keluar dari tempat yang terbakar.


d. Jenis Gas

CO2 atau karbondioksida dalam keadaan biasa wujudnya adalah gas yang tidak berwarna, tidak bau, lebih berat dari udara, tidak mengganggu kesehatan (sementara) serta tidak menghantar listrik.
Pengguanaan sebagai media pemadam pada kebakaran, cairan CO2 berubah ujudnya menjadi gas dan mengisap panas dari sekelilingnya serta sumber nyala dan mendesak udara keluar dari sekitar sumber serta proses pembakaran. Sebagai cairan CO2 disimpan dalam silinder dengan tekanan 1000-1200 psi.
Digunakan terutama untuk memadamkan kebakaran kelas B dan C. Umumnya APAR tipe ini mempunyai corong/nozzle penyemprot yang lebar.

APAR jenis ini memiliki beberapa keuntungan, antara lain :
a. Bersih tanpa meninggalkan bekas pada peralaatan yang disemprotkan, sehingga cocok
untuk laboratorium, percetakan, pabrik makanan.
b. Murah dan mudah diperoleh.
c. Tidak menghantar listrik.


APAR jenis ini juga memiliki beberapa kelemahan, antara lain :
a. Daya pemadaman kurang efektif (dibandingkan dengan media pemadam halon serta Dry
chemical),sehingga perlu konsentrasi yang tinggi untuk pemadamannya.
b. Mudah tersebut sehingga kurang efektif untuk tempat terbuka.
c. Tidak beracun, tetapi inert, sehingga untuk penggunaannya harus diperhitungkan
orang-orang yang ada diruangan tersebut. (Ansul Fire Aid Fire Training, 1974)

Cara-cara pemakaiannya :
1. Turunkan tabung CO2 dari tempatnya
2. Lepaskan horn dari tempat jepitannya
3. Putuskan lead seal (pen pengaman)
4. Pegang horn dengan tangan kiri dan arahkan keatas
5. Tekan katup dengan tangan kanan (tujuannya untuk mencoba alat ditempat sebelum
menuju kearah api)
6. Bila keadaan baik bawa ketempat kebakaran
7. Semprotkan dengan mengarahkan horn kearah api dari arah datangnya angin dan
usahakan agar menutup keseluruhan daerah permukaan api.

Jumat, 21 Mei 2010

STANDAR MUTU DAN APLIKASI PELUMAS

PENGGUNAAN JENIS PELUMAS DAN STANDAR MUTU

APLIKASI PELUMAS :
Berdasarkan aplikasi pemakaian pelumas dibagi menjadi :
- Pelumas Industri (>=50%)
- Pelumas Automotif (<=50%) Penggolongan pelumas secara detail, diuraikan dalam Surat Keputusan Menteri Energi & Sumber daya Mineral No. 1693 K/34/mem/2001 Pelumas dibagi kedalam 17 golongan berdasarkan aplikasi PENGGOLONGAN PELUMAS : 1. Pelumas motor bensin 4 langkah Automotif 2. Pelumas motor bensin 2 langkah Automotif 3. Pelumas motor bensin 2 langkah non Automotif 4. Pelumas motor diesel Automotif 5. Pelumas motor diesel industri, kapal & Kereta Api 6. Pelumas motor lain-lain 7. Pelumas roda gigi kendaraan 8. Pelumas roda gigi industri 9. Pelumas otomotif (non motor) PENGGOLONGAN PELUMAS 10. Pelumas hidraulik 11. Pelumas transmisi otomatik dan hidraulik 12. Pelumas turbin 13. Pelumas kompresor 14. Pelumas untuk pengerjaan logam 16. Pelumas untuk peralatan listrik 17. Pelumas untuk industri makanan & minuman 18. Pelumas gemuk APLIKASI PELUMAS KOMPONEN : Bearing, Cylinder, Gear - Bearings : roller, ball & plain bearings - Cylinders : engine, compressor,minyak hydraulic - Gears : transmission & differential TIPE PELUMAS (Jenis & Kualitas) - Jenis Mesin/Peralatan - Kondisi/Operasi APLIKASI PELUMAS JENIS MESIN/PERALATAN Mesin diesel/bensin : detergent, dispersant, antioxidant, anti korosi, viscosity index improver
Automotive Gear : anti wear, anti korosi, antioxidant, anti foaming, proper visc., VI tinggi
Reciprocating Air Compressor : stabil pada temperature tinggi, anti foaming, low deposit forming
Bearing : antioxidant, anti korosi, correct vics.
Hydraulic : antiscuff, anti korosi, antioxidant, VI tinggi, anti foaming, proper visc.

APLIKASI PELUMAS
KONDISI OPERASI :
- Temperature, kecepatan, beban
- Bahan bakar
- Basah/kering
- Overheating pada kecepatan rendah/tinggi
- Fire Hazard
KEBERHASILAN PELUMASAN :
Pengetahuan tentang kondisi operasi dan mutu pelumas
FORMULASI PELUMAS
Komposisi pelumas :
1. Base Oil
2. Performance Additive
3. Non performasnce Additive
Base Oil :
1 Mineral
2. Synthetic
3. Semi Synthetic
TIPE DAN FUNGSI ADDITIVE
KLASIFIKASI MUTU PELUMAS
KEKENTALAN :
- SAE (Otomotif)
- ISO (Industri)
- AGMA (Gear Industri)
- NGLI (Klasifikasi Gemuk)
UNJUK KERJA
- API (SAE, ASTM, API)
- ACEA (Eropa)
KLASIFIKASI KEKENTALAN
ISO VG :
- Pelumas Bearing Industri
- ASLE, ASTM & BSI
- Lebih Umum Dipakai
- cSt sebagai satuan standar pada 40 & 100°C
Tabel Klasifikasi Pelumas ISO VG
Tabel Klasifikasi Pelumas ISO VG
KLASIFIKASI KEKENTALAN
SAE VG
- Pelumas Otomotif (mesin, gardan transmisi manual)
- Pelumas Gear Otomotif
Tabel Viscositas SAE Otomotif
Tabel Viscositas SAE Gear Otomotif
KLASIFIKASI KEKENTALAN
ISO & AGMA (Pelumas Gear Industri)
1. Pelumas gear EP (beban tinggi)
2. Pelumas Non EP (beban ringan)
3. Compunded Gear Oil :
Asam lemak nabati/sintetis
Gear desain worm

NLGI (Angka konsistensi penetrasi gemuk)
Tabel Viscositas Gear Industri
Tabel Konsistensi gemuk menurut NGLI
KLASIFIKASI UNJUK KERJA
Pelumas Mesin
Bensin (SA s/d SJ) & Diesel (CA s/d CD)
Api SL berlaku mulai 2001, dipersiapkan Pertamina
API CI-4 untuk standar emisi, dipersiapkan pertamin
ACEA (Eropa)
Pelumas Gear Otomotif
Api-Gl 1: kondisi menegah (beban sliding), tanpa additif
API-GL2 : kondisi lebih berat dari API-GL 1
API-GL 3 : kecepatan/beban sedang, transmisi dan gardan
API-GL 4 : transmisi manual, spral bevel, tugas sedang
API-GL 5 : roda gigi hypoid, kecepatan tinggi & beban kejut tinggi

KLASIFIKASI UNJUK KERJA
Klasifikasi unjuk kerja pelumas mesin otomotif

KLASIFIKASI UNJUK KERJA
Pelumas Industri (turbin, hidrolic, gear)
Turbin :
German standard DIN 51515
British standard BS489: 1983
General elektic GEK 32568F
US MIL-L17672D
Gear
AGMA Specification
Hidrolik
German standard DIN 51524 part 1
Denison HF-1
Cincinnati Milacrom P-38, P-54, P-55 Gemuk
KLASIFIKASI UNJUK KERJA
GEMUK
Survey Spesifikasi Pelumas
Survey Spesifikasi Pelumas
API Base Oil Category
API Base Oil Category
Advances to Mineral :
Higher Viscosity Index and Flash Point
Lower Pour Point
Extreme application both low & high temperature
Disvances To Moneral :
Higher Price
Seal Swelling
PEMILIHAN PELUMAS
Pelumasan yang baik adalah memilih pelumas
yang tepat pada tempat dan waktu yang tepat

Pemilihan pelumas ditenukan oleh :
Rekomendasi manufaktur (terpenting)
Jenis pelumasan
Kondisi operasi
Harga
PEMILIHAN PELUMAS

PENGENALAN TENTANG PELUMAS

JENIS PELUMAS
Sifat Fisik :
- Pelumas Cair : Mineral, Semi-sintetik, Full-sintetik
- Pelumas Padat : Gemuk
Aplikasi :
- Otomotive : Motor (4T & 2T), Mobil (bensin & diesel), Transmisi, dll.
- Komersial : Truk, bus, alat angkut lainnya, Transmisi, dll.
- Industri : Genset, Hidrolik, Kompressor, dll.
- Khusus : Turbin, Transformer oil, Heat Transfer oil, dll.
Kekentalannya :
- Mengikuti standart SAE (Society of Automotive Engineers)
- Mengikuti standart ISO (International Organization for Standardization)
- Mengikuti standart NLGI (National Lubricating Grease Institute)
Sifat Fisik Pelumas
Pelumas Cair : bahan dasar pelumas (base oil) +additive
- Mineral : base oil mineral + additive
- Semi-sintetik : base oil mineral + base oil sintetik + additive
- Full sintetik : base oil sintetik + additive
Pelumas padat : Proses kimia dengan tahapan
- Proses pembuatan sabun (Saponification)
- Penambahan base oil, additive dan komponen lain
- Penghalusan struktur/serat
- Pengeringan/penguapan air dan material lain
Kualitas Pelumas Bensin(Gasoline Engine Oil)
Kualitas Pelumas Diesel (Diesel Engine Oil)
Kualitas Pelumas Transmisi(Gear Oil)
Kualitas Pelumas dua langkah(2T)
Kualitas Pelumas transmisi(Automatic Transmission Fluid)
Kualitas Pelumas padat(Gemuk)

Kekentalan Pelumas (SAE)(Engine Oil)
NOTE: 1cP=1 mPa/s; 1cSt=1mm/s
All Values are critical spesification as defined by ASTM D 3244 (see text, section 3).
2 ASTM D 5293
3 ASTM D 4684-Note-the presence of any yield stress detectable by this method constitutes a failure regardless if viscosity
4 ASTM D445
5 ASTM D 4683, CEC L-36-A-90 (ASTM D 4741)
6 2.9 cP for 0W40, 5W40 & 10W40 and 3.7 cP for 15W40,20W40, 25W40, 25W40 and 40 grades.

Kekentalan Pelumas automotive(SAE)
Kekentalan Pelumas indutri (ISO)
Kekentalan Pelumas padat/bantalan (NLGI)

Fungsi Pelumas Mesin
Dasar :
a. Pelumasan (Lubricating)
b. Pendingin (Cooling)
c. Penyekat (Sealing)
d. Pembersih (Cleaning)
Tambahan :
e. Penetralisir (Neutralised Acid)
f. Pencegah (Anti Corrosion & Rust)
Unggulan :
g. Irit bahan bakar (Energy Conserving)
h. Pergantian lebih lama (extended oil drain)
Cara Memilih Pelumas
Pilih kekentalan sesuai rekomendasi pabrik
Pilih kualitas pelumas yang tertinggi dan
disesuaikan dengan jenis bahan bakar mesin
Pilih merk yang sudah terkenal
Memiliki Nomor Pelumas Terdaftar (NPT) dari
Dirjen Migas
Optimalisasi Pemakaian Pelumas
Pengapian/pengkabutan bahan bakar pada
mesin harus tepat/baik
Menggunakan bahan bakar sesuai spesifikasi
pabrik
Tersedianya udara yang cukup untuk
pembakaran yang sempurna (filter udara harus
bersih dan baik)
Pemakaian pelumas yang tepat dan baik (kekentalan & kualitas)
Ganti filter pelumas secara periodik sesuai
rekomendasi pabrik
Perbaiki kebiasaan mengemudi yang buruk
Ganti pelumas sesuai rekomendasi pabrik

Kamis, 20 Mei 2010

How Lubrication Affects

Machine Reliability

° Financial benefits from achieving lubrication excellence

° Don’t attempt reliability-centered maintenance (RCM) without the 5–I lubrication method

° Five equipment maintenance strategies, and when each applies

° Important implementation steps to lubrication excellence

° 10 roadblocks to achieving lubrication excellence

Lubrication Workforce -

Staffing, Training and Culture

° How to transform your maintenance culture

° Examples of a lubrication department

organization chart

Lubrication Fundamentals

° Six important functions of lubricating oils

° How oils and greases are formulated and why it is important

° How friction is generated in lubricated machinery

° The importance of oil film thickness and critical clearances

Understanding Base Oils and Grease Thickeners

° Seven important physical properties of a base oil

° The importance of API’s five base oil categories

° The advantages of hydrocracked oils: fact or fiction?

° When to select one of the six most commonly used synthetic base oils

° Base oils that offer significantly extended drain intervals

° Compatibility: how synthetics match up with seals and mineral oils

° How to use temperature to determine the right base oil for your machine

° How grease thickeners are created and why it is important

° How to select grease thickeners for your applications

Lubricant Performance Properties

° 14 key additives that enhance lubricant performance

° Understanding viscosity grades, measurement and reporting

° Why Viscosity Index is important and how VI improves work

° Lubricant performance tests and reporting - what you need to know

° How water affects base oil, additives and the machine

° How water contamination generates other contaminants

° Effects of oxidation on the oil, grease and the machine

° Lubricants in cold temperatures and heater selection issues

° How to control and eliminate aeration problems

° Finding greases that resist bleed, separation and water washout

Food-grade and Environmentally Friendly

Lubricants

° Important USDA requirements and government regulations for food-gradelubricants

° What you need to know about food-grade additives, base oils and grease thickeners

° Advantages and disadvantages of food-grade lubricants

Understanding Additive Degradation

° The three most common types of additive degradation

° The impact of lubricant storage on additive health

° Recommended lubricant storage life for indoor and outdoor storage

° Common incompatibility problems of additives, base oils and grease thickeners

° Aftermarket additive supplements pros and cons

° How to test for additive depletion

Lubricating Grease

Application Methods

° Seven tips for avoiding incompatible grease mixtures

° Best practices for the maintenance of grease guns and fittings

° How central lubrication systems work - advantages and disadvantages

° Best practices for greasing motor bearings

° How to calculate greasing intervals and quantity

° Procedures for packing a bearing, gear case or coupling with grease

° Best practices for ultrasonic/ sonic-based greasing

° Important tips for working with your motor rebuild shop

Lubricating Oil Application Methods

° Overview of oil lubrication methods and devices

° How to use oil mist and other automatic lubrication methods

° Using pressure spray methods for gearboxes

° Best practices for the maintenance of grease guns and fittings

° Overview of single-point direct lubrication systems

Oil Drains, Flushing and Reservoir Management

° How to optimize and extend oil change intervals

° Interval vs. condition-based oil change intervals

° How to monitor lubricant consumption

° Best practices for oil changes

° How to know when to perform a flush

° Selecting appropriate cleaning and flushing procedures

° How to accessorize equipment for lubrication excellence

° How to inspect machines for sludge and deposits

Storing, Handling and Managing Lubricants

° How to optimize lubricant selection/

procurement

° Best practices for inspecting/testing new

lubricant deliveries

° How to implement a lubricant consolidation

program and select suppliers

° Bulk and packaged lubricant handling and

storage best practices

° The best hardware and containers for

transferring lubricants

° Best practices for inventory management

and labeling

° Best practices for inspecting/testing new

lubricant deliveries

° Used lubricant storage, handling and

disposal best practices

° How to set up a world-class lube room

Lubrication PM Optimization

and Design

° How to conduct lubrication audits and

surveys

° How to write a proper PM procedure

° Setting effective lubrication PM intervals

and schedules

° How to conduct lubrication audits and

surveys

° Building reliability through contamination

control

° The seven most destructive contaminants

and how to control them

° Proactive maintenance in three steps

° Understanding the ISO Solid Contaminant

Code

° Ten ways to maximize filter cart use

° Understanding the different filtration

technologies

° Strategies for removing water from oil

° How to select full-flow, bypass, off-line

and return line filters

° Headspace management techniques for

keeping oil dry

° How to select vents and breathers

° Coolant and fuel contamination in motors

Fleet and Automotive Lubricants

° How to read an oil can

° How to select the right motor oil viscosity

° Synthetic vs. conventional motor oils

° Tips for selecting engine oil filters

° Oil consumption, leakage and loss of oil

pressure

Troubleshooting Lubrication Problems

° Gearbox lubrication problems

° Journal bearing problems

° Rolling element bearing problems

° Diesel engine problems

° Compressor problems

° Hydraulic system problems

Contamination Control

° Building reliability through contamination

control

° The seven most destructive contaminants and

how to control them

° Proactive maintenance in three steps

° Understanding the ISO Solid Contaminant

Code

° Ten ways to maximize filter cart use

° Understanding the different filtration

technologies

° Strategies for removing water from oil

° How to select full-flow, bypass, off-line

and return line filters

° Headspace management techniques for

keeping oil dry

° How to select vents and breathers

° Coolant and fuel contamination in motors

Leakage Stability

° How to identify and classify leaks

° Strategies for locating and correcting leaks

° Leakage management strategies for

lubrication excellence

Fleet and Automotive Lubricants

° How to read an oil can

° How to select the right motor oil viscosity

° Synthetic vs. conventional motor oils

° Tips for selecting engine oil filters

° Oil consumption, leakage and loss of oil

pressure

Selecting Lubricants

° Journal and rolling-element bearings

° Open and enclosed gears

° Mechanical couplings

° Gas engine and gas compressors

° Air compressor

° Refrigeration compressors

° Steam and gas turbines

° Hydraulic fluids

° Process pumps

° Wire rope and chain

° Paper machines

° Marine and locomotive engines

° Multipurpose grease

° Oil mist lubricants

Troubleshooting Lubrication Problems

° Gearbox lubrication problems

° Journal bearing problems

° Rolling element bearing problems

° Diesel engine problems

° Compressor problems

° Hydraulic system problems

Used Oil Analysis Basics

° When to use 11 common used oil analysis tests

° Oil sampling best practices

° Oil analysis for condition-based oil changes

° Detecting and analyzing machine wear debris

° Easy field tests for quick inspections

Lubrication and Oil Analysis Metrics

° Lubrication performance charting

° Using the Overall Lubrication Effectiveness (OLE) metric

° Tracking return on net assets for your program

° How to use software and the Internet for program metrics